Laman

Jumat, 17 September 2010

Pengen Masuk Lorong Waktu part. 1

Baru kemarin.............. yach sepertinya baru kemarin aku menapaki jalan itu...rasanya sangat menyenangkan, sangat aku rindukan dan sangat ingin rasanya aku mengulang kembali. Keceriaan tanpa beban meskipun hanya berjalan apa adanya, tidak terlalu istimewa, hanya berkumpul dengan teman-teman senasib, sepenanggungan, seperjuangan, yang memunculkan rasa kekeluargaan yang mendalam, persaudaraan yang mengharukan, persatuan yang abadi walaupun sekarang dizaman yang berbeda terpisah ruang dan waktu.
Saat itu, ketika bangun disiang hari (maklum dulu tidak pernah bisa bangun pagi...hehehe...), sebatang rokok dan secangkir kopi yang pertama dicari (mandi dan sikat gigi mah entar aja.....)untuk memastikan bahwa diawal hari ini aku tidak mati penglihatan, tidak mati gerak, tidak mati nafas, tidak mati rasa, dan tidak mati gaya.... wah ternyata aku bisa melanjutkan hidup hari ini, bisa beraktifitas dan mengikuti arah pikiran dan kakiku melangkah.
Menyusuri lorong-lorong kota yang "
Berhati Nyaman" begitulah orang Jogja menyebutnya,ya... Jogja, ramah orang menyapa disetiap sudut kota sampai kepelosoknya. disebuah perhentian anda diajak berjalan kaki menuju kesuatu titik dengan mata tertutup yang jarang orang bisa melakukannya, penuh keteguhan hati, pikiran yang bersih serta ketenangan jika anda mau mencapainya.
Banyak ornamen dan peninggalan bersejarah syarat dengan tradisi budaya yang sangat kental.Disore hari mampirah disebuah lesehan ronde, musik jalanan mengalun dengan merdunya "
sugeng sonten mas, ajeng numpang nembang" dimanjakan dengan pandangan yang menerawang jauh hingga puncak merapi. kata orang kalau anda mau kepuncaknya harus lewat puncak garuda.. padahal puncak garuda sudah hilang karena beberapa kali terkena muntahan lahar gunung...(Bahkan ada yang mengabadikan dengan nama bara merapi, tapi sepertinya kalah senior dengan Tapak Rimba tuch...)
Menelusuri lorong yang sesak oleh penjaja khas kerajinan daerah, jajan pasar, pernak-pernik asesoris, jasa rajah tubuh dan lain sebagainya. dan tidak disangka bisa ketemu teman lama, maklum tempat yang selalu ramai oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Sensasi berjubel, bahasa yang campur aduk dari berbagai daerah itulah yang ternyata susah dilupakan.
Hari mulai senja, tapi seolah kota ini tidak pernah tidur, hiburan rakyat menyapu pandanganku disela menikmati sunset disalah satu pantai pinggiran kota. melepas lelah dengan minuman khas yang aromanya menyegarkan, tak lupa naik kepuncak kayangan....wah ternyata ada singkong rebus
gembur pulen sama sambal terasi...uenak uei...
Sudah tengah malem ko laper lagi ya? rasanya makan tengah malem yang tepat adalah Gudeg ibukota, tempe bacemnya enak lho.. lesehan sambil ngitung hilir mudik kendaraan lewat sekalian menghabiskan malam....eh.... baru teringat skripsi ternyata deadline penyelesaiaannya 2 bulan lagi......dieng...dieng...


Bersambung ke part 2


0 komentar:

Posting Komentar