Laman

Senin, 20 September 2010

"Suara Hati"

Ketika seseorang dalam kondisi yang mengenakkan dan punya banyak peluang untuk memperoleh keuntungan dengan cara mengambil hak orang lain, baik berupa barang, uang maupun bentuk lain, tak banyak pula orang yang dapat mengendalikan dirinya. Seperti kata bang napi yang sangat populer sebagai slogan disalah satu TV swasta nasional ditanah air yaitu “Kejahatan bisa datang bukan karena niat pelaku tapi juga karena ada kesempatan”. Karena tawaran untuk memperkaya diri lebih membutakan hati nurani ketimbang mendengarkan suara hati.

Banyak orang mengsalah artikan suara hati, tidak semua orang peka terhadap suara hatinya. Bahkan beberapa orang menganggap keinginan yang menggebu, meluap-luap, hawa napsu, keinginan untuk mendapatkan sesuatu karena sudah sangat mendesak baik untuk pemuas diri maupun gengsi semata disebutnya dengan suara hati. Hal ini adalah salah kaprah karena justru kalau kita peka akan menyatakan sangat bertentangan dengan suara hati. Suara hati merupakan suara yang datang dari Tuhan, berupa kebenaran dalam kasih. Agama manapun pasti mengajarkan kita untuk untuk berbuat baik, mengindahkan norma yang berlaku dalam agama dan masyarakat yang tentunya berdasar pada suara hati.

Dijaman sekarang yang katanya sudah era globalisasi banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Uang adalah segalanya, ketika orang tidak punya uang ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya. Demikian pula sebaliknya ketika orang sudah bergelimang uang ia akan memanfaatkan uang untuk mendapatkan apapun sesuai keinginannya.

Tidak sedikit pula kejadian disaat pemilu atau pemilukada contohnya. Kandidat calon tertentu yang merasa punya uang dapat membeli suara untuk mendukung dirinya dalam memuluskan menduduki jabatan tertentu dengan berharap uang yang dikeluarkan bisa kembali saat ia menjadi pejabat nantinya. Berarti untung double dong..... Walaupun kalau dilihat juga tidak semua orang menempuh jalan itu untuk memuluskan langkahnya dalam pemilu. Masih ada yang menggunakan suara hatinya, bahkan membawa misi penting yaitu ingin mengakomodasi dan memperjuangkan aspirasi dari masyarakatnya yang akan diwakilinya.

Hidup adalah pilihan, pilihan bagi anda setiap orang untuk menjalaninya menggunakan metode, cara dan jalan apapun yang menurut anda yakini. Mudah - mudahan kita tidak salah memilih dan semoga kita disadarkan untuk semakin peka dalam mendengarkan suara hati yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita.

Sabtu, 18 September 2010

Kerinduanku


Seperti mengharap asa yang tiada...
Seperti mengharap keceriaan saat berduka..
Seperti mengharap Sinar dalam kabut yang membutakan mata..
Seperti mengharap pulau ditengah samudera..
Tapi ....
Ketika Cinta memanggilmu...
Turutlah bersamanya
Ketika Cinta memanggilmu..
Berlarilah untuk mengejarnya
Ketika Cinta memanggilmu..
Rengkuhlah ia..
Ketika Cinta Memanggilmu..
Berjuanglah untuk mendapatkannya
Percayalah...
Wahai perempuan dalam keagungan Cinta..
Jangan enggan membuka gapura hatimu..
Simpan tangis, kedukaan dan emosi jiwa..
Kekuatan Cinta akan datang menjemputmu..

Budaya Antri


Pekanbaru (18/09)
Orang mengistilahkan bagai budaya bebek, budaya teratur, budaya untuk bersabar menunggu giliran saatnya tiba. Berbaris rapi sesuai dengan urutan kedatangan yang dalam istilah inventory disebut juga FIFO ( first input, first output). Banyak contoh budaya mengantri yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Jangankan untuk mendapatkan sesuatu seperti membeli minyak tanah saat krisis, mendapatkan sembako murah, mengambil gaji dikantor pos bagi para pensiunan PNS, menarik uang melalui ATM. Membayarpun harus antri, padahal kita akan memberikan atau bahkan menguntungkan pihak yang akan menerima seperti membayar kredit/angsuran kendaraan bermotor di perusahaan pembiayaan, membayar listrik, menyetor uang ke bank sampai kepembayaran tunggakan hutang berupa bunga pinjaman. Adilkah ?
Untungnya banyak perusahaan dan instansi yang semakin berupaya meningkatkan kualitas pelayanan dengan memfasilitasi hal tersebut seperti halnya mempermudah setiap pembayaran melalui ATM. Tapi kok masih mengantri juga ya masuk AMTnya.....

Jadi sebenarnya budaya tersebut masih relevan jika harus diterapkan di lingkungan sekitar kita mengingat beberapa fasilitas umum yang belum sepadan dengan jumlah penduduk dinegara kita tercinta. Miris ketika kita melihat dan merasakan bagaimana bila kita saat mengantri ada orang tertentu bahkan sekelompok orang yang berusaha ingin menerobos mendahulukan kepentingannya dan tidak memperdulikan orang lain. Dengan alasan apapun sebenarnya hal tersebut tidak dapat dibenarkan. Mungkin ada orang yang mengalah atau iba bahkan berbaik hati melihat orang yang terburu-buru atau terkena musibah sehingga didahulukan, tetapi apakah orang yang lain juga akan bertindak demikian? Atau bahkan akan menghujat orang yang berbaik hati tersebut?
Seperti halnya yang saya alami tadi malam, rasa kesal dan dongkol masih saya rasakan sampai pagi ini. Saat saya akan mengisi bahan bakar premium motor saya disalahsatu SPBU yang ada di jalan Sudirman Pekanbaru, antrian satu lajur begitu panjang dan kurang setelah menunggu akhirnya tinggal dua lagi untuk mendapat giliran sedangkan seorang ibu dengan membawa anak kecil yang kelihatannya cemas menunggu dibelakang saya, dalam obrolan kami ternyata sang ibu sedang kawatir karena akan menjenguk anaknya yang lain yang ternyata dirawat disalahsatu rumah sakit dikota ini. Tiba-tiba muncul dari samping antrian kami 2 motor yang menyerobot ingin dilayani pengisian bahan bakar terlebih dahulu. Jelas dong dua pengantri didepan saya berdebat dengan penyerobot tadi yang berbadan kekar dan perawakan seperti preman. Si pegawai SPBU akhirnya melerai, akan tetapi karena ancaman dan gertakan pemuda berbadan kekar tadi akhirnya penyerobot itu dilayani terlebih dahulu. Ketika itu saya melihat kebelakang seorang ibu dengan wajah sedih dan berharap hanya bisa mengelus dada.

Akhirnya sampai juga ke giliran saya untuk mengisi bensin, karena melihat wajah ibu dibelakang saya yang kelelahan sambil menggendong seorang anak maka saya berbesar hati untuk mendahulukan ibu itu ketimbang giliran saya karena saat itupun saya tidak terlalu terburu-buru. Pegawai SPBU malah menghardik saya dengan alasan merusak antrian (mungkin karena masih kesal dengan ulah dua pemuda kekar yang tadi). Karena saya letaknya sejajar dengan ibu itu akhirnya ibu itu dilayani terlebih dahulu oleh pegawai tersebut. Setelah itu karena saya dianggap merusak antrian saya disuruh mengantri lagi paling belakang jika ingin dilayani untuk pengisian premium????

Apakah ini yang namanya budaya antri yang sesungguhnya?

Jumat, 17 September 2010

Pengen Masuk Lorong Waktu part. 1

Baru kemarin.............. yach sepertinya baru kemarin aku menapaki jalan itu...rasanya sangat menyenangkan, sangat aku rindukan dan sangat ingin rasanya aku mengulang kembali. Keceriaan tanpa beban meskipun hanya berjalan apa adanya, tidak terlalu istimewa, hanya berkumpul dengan teman-teman senasib, sepenanggungan, seperjuangan, yang memunculkan rasa kekeluargaan yang mendalam, persaudaraan yang mengharukan, persatuan yang abadi walaupun sekarang dizaman yang berbeda terpisah ruang dan waktu.
Saat itu, ketika bangun disiang hari (maklum dulu tidak pernah bisa bangun pagi...hehehe...), sebatang rokok dan secangkir kopi yang pertama dicari (mandi dan sikat gigi mah entar aja.....)untuk memastikan bahwa diawal hari ini aku tidak mati penglihatan, tidak mati gerak, tidak mati nafas, tidak mati rasa, dan tidak mati gaya.... wah ternyata aku bisa melanjutkan hidup hari ini, bisa beraktifitas dan mengikuti arah pikiran dan kakiku melangkah.
Menyusuri lorong-lorong kota yang "
Berhati Nyaman" begitulah orang Jogja menyebutnya,ya... Jogja, ramah orang menyapa disetiap sudut kota sampai kepelosoknya. disebuah perhentian anda diajak berjalan kaki menuju kesuatu titik dengan mata tertutup yang jarang orang bisa melakukannya, penuh keteguhan hati, pikiran yang bersih serta ketenangan jika anda mau mencapainya.
Banyak ornamen dan peninggalan bersejarah syarat dengan tradisi budaya yang sangat kental.Disore hari mampirah disebuah lesehan ronde, musik jalanan mengalun dengan merdunya "
sugeng sonten mas, ajeng numpang nembang" dimanjakan dengan pandangan yang menerawang jauh hingga puncak merapi. kata orang kalau anda mau kepuncaknya harus lewat puncak garuda.. padahal puncak garuda sudah hilang karena beberapa kali terkena muntahan lahar gunung...(Bahkan ada yang mengabadikan dengan nama bara merapi, tapi sepertinya kalah senior dengan Tapak Rimba tuch...)
Menelusuri lorong yang sesak oleh penjaja khas kerajinan daerah, jajan pasar, pernak-pernik asesoris, jasa rajah tubuh dan lain sebagainya. dan tidak disangka bisa ketemu teman lama, maklum tempat yang selalu ramai oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Sensasi berjubel, bahasa yang campur aduk dari berbagai daerah itulah yang ternyata susah dilupakan.
Hari mulai senja, tapi seolah kota ini tidak pernah tidur, hiburan rakyat menyapu pandanganku disela menikmati sunset disalah satu pantai pinggiran kota. melepas lelah dengan minuman khas yang aromanya menyegarkan, tak lupa naik kepuncak kayangan....wah ternyata ada singkong rebus
gembur pulen sama sambal terasi...uenak uei...
Sudah tengah malem ko laper lagi ya? rasanya makan tengah malem yang tepat adalah Gudeg ibukota, tempe bacemnya enak lho.. lesehan sambil ngitung hilir mudik kendaraan lewat sekalian menghabiskan malam....eh.... baru teringat skripsi ternyata deadline penyelesaiaannya 2 bulan lagi......dieng...dieng...


Bersambung ke part 2


Kamis, 16 September 2010

Long Week End di Citarik bersama Arus yang Menantang


Sukabumi (25/01)

Kesibukan dan rutinitas yang begitu-begitu saja memang sangat membosankan. Ketika tiap hari disibukkan dengan pekerjaan yang dikejar deadline, target yang membebani serta pressure pekerjaan yang luar biasa, refreshing long Week end adalah pilihan yang tepat. Banyak pilihan ketika anda ingin melepas lelah, Pusat perbelanjaan, Taman hiburan Rakyat, Pantai, bahkan ke Salon dan tempat-tempat perawatan tubuh pun bisa menjadi alternative pilihannya. Tapi wisata yang berbeda yang bisa memacu adrenalin dan ketangkasan anda juga bisa menjadi pilihan anda ketika menikmati liburan.

Seperti halnya yang saya Robert (Kebho’) dan Bayu (Gereh) serta beberapa temen kerja pilih pada saat menikmati hari libur, Touring dan rafting adalah pilihan yang menarik. Berlokasi di Citarik Sukabumi memang cukup jauh dari lokasi rutinitas, apalagi jika ditempuh dengan mengguakan sepedamotor ditambah macetnya jalur Ciawi sebagai penghubung bogor dan sukabumi. Tetapi tidak menyurutkan semangat dan keinginan ber-rafting-ria walaupun harus menempuh jarak 5-6 jam dari kota tangerang. Sepanjang jalan diguyur hujan dan melalui beberapa perhentian walaupun hanya sekeder melepas lelah, menghangatkan tengan tubuh dengan ditemani secangkir kopi jahe butan penduduk lokal disekitar lingkar bukit. Sesampai dilokasi kita disuguhi pemandangan dan lingkungan yang menyegarkan, penyambutan yang ramah dari pihak pengelola, tempat peristirahatan nyaman berupa sawung – sawung yang benar-benar jauh dari hiruk pikuknya kota.

Setelah melepas lelah dan sarapan pagi dengan ditemani gemercik air sungai citarik, tiba saatnya hal yang paling ditunggu-tunggu Ber-Rafting-ria , dengan mengambil paket Aligator kita mengarungi sungai dengan jarak tempuh 9 km dari posisi km 12 menuju km 21 disuguhi oleh arus dan jeram yang menantang serta berkelok-kelok. Ditemani Instruktur arung jeram yang profesional dan berpengalaman menjadikan rafting kita penuh dengan petualangan yang memacu adrenalin sekaligus mengasyikan…………

Ada yang mau….