Laman

Sabtu, 18 September 2010

Budaya Antri


Pekanbaru (18/09)
Orang mengistilahkan bagai budaya bebek, budaya teratur, budaya untuk bersabar menunggu giliran saatnya tiba. Berbaris rapi sesuai dengan urutan kedatangan yang dalam istilah inventory disebut juga FIFO ( first input, first output). Banyak contoh budaya mengantri yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Jangankan untuk mendapatkan sesuatu seperti membeli minyak tanah saat krisis, mendapatkan sembako murah, mengambil gaji dikantor pos bagi para pensiunan PNS, menarik uang melalui ATM. Membayarpun harus antri, padahal kita akan memberikan atau bahkan menguntungkan pihak yang akan menerima seperti membayar kredit/angsuran kendaraan bermotor di perusahaan pembiayaan, membayar listrik, menyetor uang ke bank sampai kepembayaran tunggakan hutang berupa bunga pinjaman. Adilkah ?
Untungnya banyak perusahaan dan instansi yang semakin berupaya meningkatkan kualitas pelayanan dengan memfasilitasi hal tersebut seperti halnya mempermudah setiap pembayaran melalui ATM. Tapi kok masih mengantri juga ya masuk AMTnya.....

Jadi sebenarnya budaya tersebut masih relevan jika harus diterapkan di lingkungan sekitar kita mengingat beberapa fasilitas umum yang belum sepadan dengan jumlah penduduk dinegara kita tercinta. Miris ketika kita melihat dan merasakan bagaimana bila kita saat mengantri ada orang tertentu bahkan sekelompok orang yang berusaha ingin menerobos mendahulukan kepentingannya dan tidak memperdulikan orang lain. Dengan alasan apapun sebenarnya hal tersebut tidak dapat dibenarkan. Mungkin ada orang yang mengalah atau iba bahkan berbaik hati melihat orang yang terburu-buru atau terkena musibah sehingga didahulukan, tetapi apakah orang yang lain juga akan bertindak demikian? Atau bahkan akan menghujat orang yang berbaik hati tersebut?
Seperti halnya yang saya alami tadi malam, rasa kesal dan dongkol masih saya rasakan sampai pagi ini. Saat saya akan mengisi bahan bakar premium motor saya disalahsatu SPBU yang ada di jalan Sudirman Pekanbaru, antrian satu lajur begitu panjang dan kurang setelah menunggu akhirnya tinggal dua lagi untuk mendapat giliran sedangkan seorang ibu dengan membawa anak kecil yang kelihatannya cemas menunggu dibelakang saya, dalam obrolan kami ternyata sang ibu sedang kawatir karena akan menjenguk anaknya yang lain yang ternyata dirawat disalahsatu rumah sakit dikota ini. Tiba-tiba muncul dari samping antrian kami 2 motor yang menyerobot ingin dilayani pengisian bahan bakar terlebih dahulu. Jelas dong dua pengantri didepan saya berdebat dengan penyerobot tadi yang berbadan kekar dan perawakan seperti preman. Si pegawai SPBU akhirnya melerai, akan tetapi karena ancaman dan gertakan pemuda berbadan kekar tadi akhirnya penyerobot itu dilayani terlebih dahulu. Ketika itu saya melihat kebelakang seorang ibu dengan wajah sedih dan berharap hanya bisa mengelus dada.

Akhirnya sampai juga ke giliran saya untuk mengisi bensin, karena melihat wajah ibu dibelakang saya yang kelelahan sambil menggendong seorang anak maka saya berbesar hati untuk mendahulukan ibu itu ketimbang giliran saya karena saat itupun saya tidak terlalu terburu-buru. Pegawai SPBU malah menghardik saya dengan alasan merusak antrian (mungkin karena masih kesal dengan ulah dua pemuda kekar yang tadi). Karena saya letaknya sejajar dengan ibu itu akhirnya ibu itu dilayani terlebih dahulu oleh pegawai tersebut. Setelah itu karena saya dianggap merusak antrian saya disuruh mengantri lagi paling belakang jika ingin dilayani untuk pengisian premium????

Apakah ini yang namanya budaya antri yang sesungguhnya?

0 komentar:

Posting Komentar